Jurusan Pendidikan Geografi Gelar Diskusi Daring

Banda Aceh-Dilihat dari aspek ketersediaan infrastruktur saat ini, dan kebiasaan masyarakat, Indonesia belum mampu menerapkan pembelajaran daring atau online secara penuh. Untuk saat ini yang memungkinkan untuk diterapkan adalah pembelajaran blanded atau campuran antara online dengan tatap muka.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi daring dengan tema Strategi Pembelajaran pada Masa Pandemi Covid-19 dalam Rangka Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0, yang dilaksanakan oleh Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Unsyiah dan didukung penuh oleh UPT TIK universitas itu, Rabu (3/6) lalu.

Diskusi panel itu menampilkan tiga panelis, yaitu Dr. Ahmad Yani dari UPI Bandung, Dr. Nofrion dari UNP Padang, dan Dr. Jakiatin Nisa dari UIN Jakarta, dan dibuka oleh Dekan FKIP Prof. Djufri, didampingi oleh Ketua Jurusan Geografi A. Wahab Abdi dan para dosen. Jumlah peserta yang mendaftar mencapai 800 orang, dengan jumlah yang aktif mengikuti diperkirakan sekitar 500 peserta.

Hasil diskusi ini menyimpulkan bahwa selain memberikan dampak terhadap berbagai kehidupan, bencana juga memberi pembelajaran yang berharga bagi umat manusia. “Wabah Covid-19 adalah bencana yang menyerang semua negara tanpa membedakan negara maju atau negara miskin. Semua bangsa belajar dari bencana ini, termasuk dalam aspek pembelajaran pada masa wabah berlangsung,” kata Nofrion.

Sebagai negara ada yang siap, sebagian yang lainnya tidak siap untuk menerapkan strategi pembelajaran di era pandemi Covid-19 ini. Bangsa kita ini termasuk belum mampu menerapkan pembelajaran daring secara penuh. Karena masalah bencana yang kita bicarakan masih hulunya saja, belum sampai ke hilir.

Peserta didik kita yang memiliki dan menggunakan komputer untuk belajar hanya 34%. Angka ini jauh di bawah kepemilikan komputer peserta didik di Austria, Swiss, dan Swedia. “Sementara jumlah smartphoneyang dimiliki siswa mencapai 133%,” tegas Nofrion lagi.

Selain itu, Indonesia masih tertinggal dalam aspek insfrastruktur. “Wilayah yang terjangkau internet baru 40%, itupun tidak selalu baik sinyalnya,” kata Jakiatin Nisa. Hal ini semakin diperburuk akibat kurangnya agiliti masyarakat dalam dunia pembelajaran.

Dengan kondisi seperti ini maka, Jakiatin sependapat dengan Ahmad Yani bahwa pembelajaran blanded adalah pilihan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di Indonesia.

Menyinggung Era Revolusi Industri 4.0, Ahmad Yani mengatakan bahwa yang akan terjadi adalah disrupsi, yaitu beralihnya sistem lama ke suatu sistem baru. Di sini tenaga kerja manusia akan digantikan oleh mesin dan robot.

Tentu saja akan lahir beragam teori belajar, seperti heutagogy, peeragogy, dan cybergogy.  “Pertanyaannya apakah posisi guru dan dosen juga akan tergantikan dengan robot atau mesin-mesin,” kata Ahmad Yani bernada tanya.

Dosen UPI Bandung ini berpendapat bahwa kalau yang berkaitan dengan aspek kognitif  peran guru atau dosen dapat digantikan. Sementera kalau yang berkaitan dengan aspek psikomotorik dan afektik, peran guru dan dosen masih tetap dibutuhkan di era revolusi industri 4.0 kelak

Website Resmi Jurusan Pendidikan Geografi Unsyiah.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *